Foto Rekreasional Perayaan Hari Anak – Panau

10 bulan paska bencana di wilayah Kota Palu dan Donggala juga melangsungkan perayaan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli 2019 melalui basis  pengorganisasian balai belajar kampung yang dibangun bersama Yayasan Sikola Mombine di 11 titik lokasi terdampak wilayah Palu dan Donggala. Sikola Mombine melalui layanan Samporoa Mombine sebagai ruang ramah perempuan dan anak telah melakukan pendampingan kasus kekerasan  di antarnya 3 kasus kekerasan dalam rumah tangga, 4 kasus kekerasan terhadap anak 2 kasus penelantaran anak serta 1 kasus pernikahan anak dan kesemuanya ini adalah kasus yang terjadi pasca bencana berada di titik pengungsian dan hunian sementara. Fenomena ini tentunya menjadi satu keresahan bersama yang harus segera direspon dan dicegah serta menjadi ajang kampanye untuk terus melakukan perlawanan  atas penolakan kekerasan yang di alami oleh perempuan dan anak.

Melalui komunitas Balai Belajar Kampung  perayaan hari anak internasional diikuti oleh 200-an anak di wilayah Kelurahan Ganti, Kelurahan Panau dan Kelurahan Pantoloan. Bersama-sama serentak melakukan aktivitas perayaan Hari anak Nasional sebagai ruang rekreasional dalam upaya pemulihan psikologi anak dan masyarakat yang tinggal di hunian sementara. Beberapa aktivitas di antaranya lomba menggambar, lomba mewarnai, lomba balap karung dan bola kaki dangdut menjadi agenda yang turut memeriahkan perayaan hari anak di wilayah Palu dan Donggala secara khusus anak-anak yang berada di titik pengungsian. Khusus di Lokasi Huntara Tongge Kel. Pantoloan Boya komunitas Balai Belajar Kampung bekerja sama dengan Forum Anak Kota Palu melaksanakan nonton bersama melalui bioskop keliling dengan tontonan yang mengedukasi. Tidak hanya mengikuti lomba dan nonton bersama antusias anak-anak dan warga penyintas yang tinggal di Huntara turut serta dalam perayaan ini diikuti dengan pernyataan penandatanganan bersama di atas spanduk yang bertemakan “ STOP KEKERASAN TERHADAP ANAK”.

Foto Penandatangan Spanduk Anak-Anak Huntara Panau

Dalam acara nonton bersama yang terlaksana di Huntara Tongge Kelurahan Pantoloan Boya Risnawati sebagai Direktur pelaksana Yayasan Sikola Mombine mengatakan orang tua dan lingkungan sekitar adalah penentu untuk anak-anak menemukan ruang yang aman dan nyaman, semua orang berkewajiban untuk mengetahui apa yang menjadi pemenuhan hak anak pasca bencana. Budaya patriarki yang masih sangat kental di masyarakat kita dimana  melihat ibu sebagai pengasuh utama menjadi akar utama hilangnya peran seorang ayah dalam pola pengasuhan anak.

“Pasca bencana Pola pengasuhan anak menjadi hal penting untuk proses tumbuh kembang anak. Pengaruh lingkungan untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak menjadi keharusan bagi kita untuk terus berupaya meciptakan. Tentunya bencana 28 September yang kita alami bersama secara khusus orang tua akan mengalami dampak psikologi tersendiri yang akan mempengaruhi pola pengasuhan terhadap anak.  Ayah dan ibu harus bersama-sama membangun komitmen dalam mengasuh anak, karena mengasuh anak bukan hanya menjadi tugas perempuan tetapi juga laki-laki sebagai seorang ayah”.

Di akhir Sambutannya, Direktur pelaksana harian Yayasan Sikola Mombine juga menegaskan bahwa seruan perlawanan “ Stop Kekerasan Terhadap Anak” tidak akan berakhir dalam perayaan hari ini, tapi menjadi tantangan kedepan untuk terus mengaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tinggalkan Komentar

Close Menu