Penulis: Wulan Trisya Lembonunu

Sebanyak 400 perempuan penyintas berkumpul di taman GOR Palu, Selasa 10 Desember 2019 untuk menjadi bagian dari Dunia dalam perayaan 16 Hari anti kekerasan terhadap Perempuan. Dengan menggunakan kostum berwarna putih, ungu atau orange ratusan perempuan ini mengikuti kegiatan “Mombine, Padagi” dengan tema “Pulih Bersama, Untuk Perempuan Bebas Dari Kekerasan” yang diselenggaraka oleh Sikola Mombine, LBH SulTeng, SKPHAM, Sejenak Hening, Seni Kebudayaan Rakyat, sanggar Seni Lauro, Daster Biru,Komunitas Historia. Ratusan peserta yang terlibat ini merupakan perempuan penyintas, vokal poin dari wilayah Kerja Yayasan Sikola Mombine Di Palu, Sigi, dan Donggala yang di terorganizir menjadi sebuah kekuatan nyata semenjak tahap Emergency Response sampai dengan tahap Rehab Rekon saat ini.

(Dokumentasi: SM)

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Kota Palu,Tepat pukul 14.00. Adapun rangkaian kegiatannya ialah penguatan melalui orasi motivasi, kelas pendidikan Seks dan kesehatan mental oleh Sejenak Hening, pembukaan ruang konseling hukum oleh LBH SULTENG, serta kelas Sejarah oleh Komunitas Historia terkait peran Perempuan dalam Kebudayaan Lokal. Selepas penguatan edukasi untuk perempua dalam perayaan ini, dilanjutkan dengan Panggung ekspresi Oleh Perempuan penyintas mulai dari penampilan Teater oleh Perempuan dari Duyu, Pertunjukan Musik perlawan kekerasan oleh Carabbean Bunglon, dan Tarian Pemulihan oleh Pantomimers Palu.

(Dokumentasi: SM)

Risnawati, sebagai Direktur Yayasan Sikola Mombine dalam orasi motivasi menyampaikan “Kekerasan terhadap perempuan, harus di selesaikan sendiri oleh perempuan dengan menggalang kekuatan secara strategis dan terukur melalui massa yang cerdas, yah Kekerasan terhadap perempuan menjadi tanggung jawab Negara dan tidak melihat sepihak dalam proses penyelesaian, isu ini harus terintegrasi oleh semua pihak, bukan Hanya Tugas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak”.

(Dokumentasi: SM)

Kegiatan yang menggalang massa sebagai kekeuatan bersama ini di harapkan mampu menjadi dorongan dan desakan bagi pemerintah untuk lebih pekah dan lebih terurukur dalam pencapaian kerja untuk upaya perlindungan terhadap perempuan, tidak tebang pilih ketika mengeluarkan kebijakan. Perempuan itu kuat mana kala ia saling menguatkan. Di akhir penutupan kegiatan 400 perempuan melakukan tarian dan membunyikan semprit sebagai tanda perlawanan atas kekerasan terhadap perempuan yang saat ini terus terjadi, kami sadar semua ranah lingkungan tidak lagk memberikan bukti kenyamanan dan kami untuk terhindar dari kekerasan. Domestkk dan Publik, orang terdekat tidak lagi menjamin untuk kami bisa merasakan kenyamanan. Ciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan, teriakan hunian yang layak bagj perempuan Penyintas Bencana alam SulTeng juga terdengar.. Negara harus hadir menyelesaikan persoalan Kekerasan Terhadap Perempuan. SAHKAN RUU PKS!!

Tinggalkan Komentar

Close Menu