“Perempuan Menginspirasi, Ibu Hasirah Mewakili Perempuan Poso dalam Kegiatan Temu Nasional Pejuang Keadilan dan Kesetaraan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”

29543012_1842185232482391_8405332295060610456_n

Ibu hasirah adalah perempuan yang lahir di Bone-31-Desember-1973 yang sekarang tinggal dan menetap di Desa Malitu Kec. Poso Pesisir. Ibu Hasirah juga menjabat sebagai ketua Balai Belajar Sikola Mombine Desa Malitu. Bersama suaminya,  Ibu Hasira bekerja sebagai pembuat gula aren. Ibu Hasirah memiliki tiga orang anak yang sangat hebat – hebat, anaknya sangat rajin dalam membantu pekerjaan di rumah maupun kegiatan Sikola Mombine seperti membantu membuat kue, memasak, ikut mendengarkan diskusi dan  membantu teknis kegiatan-kegiatan di desa.

Ibu Hasirah merupakan suku bugis, suku pendatang di Desa Malitu dan beragama Islam. Walaupun mayoritas penduduk Malitu beragama Kristen, namun mereka hidup dengan aman dan damai serta ibu hasirah selalu menceritakan tentang harmonisasi dan toleransi beragama warga Malitu dengan banyak orang. Ibu Hasirah iyalah salah satunya perempuan yang mewakili perempuan di Desa Malitu Kec. Poso Pesisir kab Poso dalam kegiatan temu nasional pejuang keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan sumber daya alam. Kegiatan ini adalah sebuah kegiatan yang menjadi forum refleksi dan berbagi pengalaman, antara komunitas yang menghadapi permasalahan dalam menjaga sumber daya alam dan menjadi wadah konsolidasi pejuang – pejuang sumber daya alam di tingkat komunitas untuk meningkatkan rasa solidaritas dalam mendorong tata kelola hutan dan lahan yang berkeadilan. Ibu Hasirah patut disebut sebagai perempuan hebat yang ada di Desa Malitu Kec. Poso Pesisir Kab. Poso.

Desa Malitu adalah salah satu desa tertua di Kabupaten Poso yang memiliki potensial sebagai skema perhutanan desa. Selain itu, desa ini juga berada di kawasan hutan  yang pernah menjadi daerah rawan gangguan keamanan dan menjadi salah satu desa basis militer dalam operasi keamanan mengejar kelompok teroris di Poso. Saat operasi militer dilakuka, aktivitas warga di desa lumpuh total, apalagi aktivitas pertanian karena lokasi pengejaran teroris masuk di wilayah pertanian warga. Selain itu, ancaman Desa Malitu sampai saat ini adalah maraknya penebangan hutan ilegal berdampak terhadap abrasi sungai yang ada dipinggir desa sehingga mengancam kepada longsornya rumah warga. Mulai bergerak sejak tahun 2014 dengan beranggotakan sebanyak 20 orang perempuan yang diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial di desa. Target utamanya bagaimana mendorong kedaulatan perempuan atas pangan. Selain itu juga berkaitan degan kebijakan desa untuk perbaikan pelayanan hak dasar masyarakat terutama bagi perempuan dan anak.

Salah satunya adalah mengembalikan kearifan lokal masyarakat dalam memproduksi gula aren yang dulunya hampir punah paska konflik Poso. Saat Gula aren hasil produksi ibu hasira menjadi produk unggulan di Bumdes. Saat ini beliau di percaya menjadi Bendahara Desa sehingga mempermudah akses dengan pemerintah desa lainnya.

Ibu hasira sampai saat ini cukup progresif menggerakan ibu-ibu lain untuk belajar di Balai Belajar Kampung. Melalui proses belajar di balai belajar kampung, ibu-ibu aktif untuk bersuara dalam rapat-rapat desa, memberikan masukan terkait dengan pengelolaan bumdes dan juga memfasilitasi musyawarah warga tentang inisiasi mendorong perhutanan desa.

Saat ini Ibu Hasira turut aktif dalam mendorong perhutanan sosial di desa Malitu, ibu Hasira mampu memfasilitasi proses sosialisasi tentang perhutanan sosial,  antara lain mengusulkan beberapa nama perempuan untuk menjadi pengurus LPHD, turut terlibat dalam proses pemetaan desa. Ibu Hasira juga mempunyai strategi dalam melakukan gerakan gerakan untuk membangun desanya, yang pertama Keberadaan ibu Hasira di desa Malitu, melalui keaktifanya dalam mengisi ruang potensial di desa untuk melakukan advokasi seperti masuk di kelompok Tani dan melakukan advokasi di proses musrembang, Dan saat ini, menguatkan produksi gula aren adalah strategi menjaga alam dan proses perlawanan terhadap illegal loging yang hampir memusnahkan belasan pohon aren disekitar hutan mereka. Walaupun gerakan ini masih bersifat melalui sosialisasi dan dilakukan melalui kelompok usaha desa. Tak lupa pula juga ibu Hasirah Melalui kelompok Tani ibu Hasira meningkatkan produksi gula merah gasing menjadi Gula Semut untuk meningkatkan harga jualnya dengan harapan para petani gula merah kembali menjadi petani dan menjaga kembali kebun aren mereka, karena dengan menjaga kebun aren adalah kembali menjaga hutan dari ancaman para pelaku ilegal loging dan menjaga dari dampak abrasi sungai yang mengancam desa mereka. Strategi merawat alam dengan menjaga gula aren akan menjadi media kampanye bersama dengan seluruh masyarakat desa berupa “Gerakan Menjaga Pohon Aren”. Strategi ini merupakan cara mereka nanti untuk bisa terus mempertahankan desa mereka dari perusakan hutan. Pendekatan yang dilakukan dalam melakukan pengorganisasian yaitu pendekatan ekonomi antara lain belajar membut aneka kripik dan gula semut serta ibu Hasirah Melibatkan anak muda di desa untuk menjadi wirausaha yang mandiri yang bekerjasama dengan Bumdes Mendorong ibu-ibu untuk menjadi pengurus LPHD Mesale, Malitu dan memfasilitasi pertemuan ibu-ibu balai belajar kampung terkait dengan peingkatan kapasitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s